Mengenal Penyakit Hipertensi Sekunder, Penyebab Dan Gejalanya

Mengenal Penyakit Hipertensi Sekunder, Penyebab, Dan Gejalanya Supaya Anda Bisa Mencegah Terjadinya Hipertensi Sekunder.

Apa Itu Hipertensi Sekunder ?

hipertensi-sekunder-300x200 Mengenal Penyakit Hipertensi Sekunder, Penyebab Dan GejalanyaHipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh masalah kesehatan atau penyakit lain, seperti gangguan pada pembuluh darah, jantung, ginjal, atau sistem endokrin. Hipertensi sekunder juga bisa terjadi karena kehamilan. Hipertensi sekunder perlu ditangani secara dini untuk menghindari terjadinya komplikasi akibat gangguan pada pembuluh darah, seperti stroke, penyakit jantung, atau gagal ginjal.

Apa Saja Gejala Hipertensi Sekunder

Berikut ini adalah beberapa tanda yang bisa mengindikasikan seseorang terkena hipertensi sekunder, di antaranya:

  • Hipertensi resisten. Tekanan darah tinggi (tekanan darah sistolik di atas 140 mm Hg dan diastolik di atas 90 mm Hg) yang tidak bisa diatasi dengan kombinasi 1 atau 2 obat hipertensi.
  • Tekanan darah yang sangat tinggi. Tekanan darah sistolik lebih dari 180 mm Hg dan diastolik lebih dari 120 mm/hg.
  • Tidak ada riwayat hipertensi dalam keluarga.
  • Serangan darah tinggi mendadak sebelum usia 30 tahun, atau setelah usia 55 tahun.
  • Adanya gejala lain yang berkaitan dengan penyakit penyebab hipertensi sekunder.

Apa Saja Penyebab Hipertensi Sekunder ?

Hanya sepuluh persen kasus hipertensi yang masuk ke dalam kategori hipertensi sekunder, selebihnya adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.

Umumnya penyebab hipertensi sekunder berkaitan dengan peningkatan produksi hormon, misalnya:

  • Penyakit ginjal. Apabila terjadi gangguan aliran darah yang masuk ke ginjal, maka ginjal akan mengeluarkan hormon yang disebut renin, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
  • Pheochromocytoma. Tumor pada kelenjar adrenal yang memproduksi hormon epinefrin (adrenalin) dan nonepinefrin (nonadrenalin) berlebih.
  • Hiperaldosteronisme (sindrom Conn). Berlebihnya produksi hormon aldosteron oleh kelenjar adrenal, yang dapat menghambat pengeluaran garam dari dalam tubuh.
  • Hiperkortisolisme (sindrom Cushing). Kelenjar adrenal memproduksi hormon kortisol secara berlebih. Keadaan ini bisa juga terjadi pada tumor kelenjar adrenal, baik ganas maupun jinak.
  • Hiperparatiroidisme. Meningkatnya produksi hormon paratiroid (parathormon) yang menyebabkan kadar kalsium meningkat. Pada penderita hiperparatiroidisme, hampir selalu ada hipertensi. Namun apa yang menyebabkan hipertensi tersebut masih belum jelas.

Selain itu, ada juga beberapa pemicu lain yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder terjadi, di antaranya:

  • Diabetes nefropati. Komplikasi diabetes yang dapat merusak sistem kerja ginjal.
  • Penyakit glomerular. Pembengkakan atau kerusakan pada penyaring kecil bernama glomeruli yang berfungsi menyaring zat buangan, termasuk garam, dari dalam tubuh.
  • Hipertensi renovaskular. Hipertensi yang terjadi karena penyempitan pada kedua arteri yang membawa pasokan darah ke ginjal.
  • Koarktasi aorta. Penyempitan aorta yang merupakan cacat bawaan lahir.
  • Kehamilan. Tekanan pada arteri yang umumnya terjadi saat hamil dan dapat mengakibatkan preeklampsia.
  • Gangguan tidur (sleep apnea). Kerusakan pada dinding pembuluh darah dikarenakan pasokan oksigen yang minim saat tidur.
  • Obesitas. Kondisi ini akan meningkatkan aliran darah dalam tubuh, memicu tekanan yang lebih pada dinding arteri.
  • Obat-obatan. Efek samping dekongestan, obat pereda sakit, pil kontrasepsi, obat antidepresi, obat antiinflamasi nonstreoid (NSAIDs), metamfetamina dan beberapa obat herba dengan kandungan tertentu dapat meningkatkan tekanan darah dalam tubuh.
  • Tindakan seperti transplantasi organ pun bisa menjadi salah satu pemicu tingginya tekanan darah.

Nah itulah pembahasan mengenai penyakit hipertensi sekunder, semoga pembahasan diatas bisa bermanfaat untuk anda.

posted by. obatdarahtinggi77.idkes.com

Penyebab Hipertensi Pulmonal Yang Harus Diketahui

Penyebab Hipertensi Pulmonal Yang Harus Diketahui Supaya Anda Bisa Mencegah Terjadinya Hipertensi Pulmonal.

hipertensi-pulmonal-300x199 Penyebab Hipertensi Pulmonal Yang Harus DiketahuiJantung memiliki dua serambi (atrium) dan dua bilik (ventrikel) yang dilalui darah dari dan menuju seluruh tubuh. Sebelum dikembalikan ke seluruh tubuh, bilik kanan jantung akan memompa darah ke dalam paru-paru melalui pembuluh arteri paru (pulmonal) untuk melepaskan kandungan karbondioksida dan mengangkut oksigen. Pada kondisi tubuh yang baik, darah dapat mengalir dengan mudah melalui pembuluh darah yang ada di paru-paru. Namun pada kasus hipertensi pulmonal, terjadi perubahan pada pembuluh darah paru-paru sehingga darah dan oksigen tidak dapat mengalir dengan baik.

Hipertensi pulmonal disebabkan oleh terjadinya penyempitan, penyumbatan, atau kerusakan pada pembuluh darah kecil dan pembuluh kapiler yang memicu naiknya tekanan darah dalam pembuluh. Tekanan darah yang tinggi kemudian membuat dinding pembuluh darah menjadi tebal, kaku, meradang, tegang, atau memicu tumbuhnya jaringan tambahan yang berujung pada berkurangnya aliran darah. Hipertensi pulmonal dapat disebabkan oleh beberapa kondisi berikut :

  • Grup 1: Hipertensi arteri pulmonal. Dikenal juga dengan istilah hipertensi pulmonal arteri idiopati, yaitu kenaikan tekanan yang berkelanjutan pada pembuluh darah paru-paru yang tidak diketahui penyebabnya. Beberapa kondisi yang diduga menjadi pemicu kondisi ini, antara lain mutasi genetik yang bersifat turun-menurun di dalam keluarga, obat-obatan metamfetamine, dan penyakit jantung bawaan.
  • Grup 2: Hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penyakit jantung bagian kiri, seperti berbagai jenis penyakit katup jantung bagian kiri dan gangguan atau gagal fungsi pada bilik kiri jantung.
  • Grup 3: Hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penyakit paru-paru. Beberapa gangguan yang dialami oleh paru-paru dapat memicu naiknya tekanan darah, seperti penyakit paru obstruktif kronis (emfisema), gangguan tidur (apnea tidur), dan fibrosis pulmonal. Seseorang yang terlalu lama tinggal di dataran tinggi juga memiliki risiko mengidap hipertensi pulmonal.
  • Grup 4: Hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penggumpalan darah kronis di paru-paru atau chronic thromboembolic pulmonary hypertension.
  • Grup 5: Hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh kondisi terkait lain yang juga tidak diketahui penyebabnya, seperti gangguan darah, gangguan metabolisme, serta tumor yang menekan pembuluh arteri paru-paru. Gangguan yang memengaruhi fungsi organ tubuh lain juga dapat memicu hipertensi pulmonal, seperti sarkoidosis.

Hipertensi pulmonal juga dapat terjadi pada bayi baru lahir. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan kondisi paru-paru bayi yang tidak berkembang dengan baik ketika lahir (severe pulmonary hypoplasia). Kondisi lainnya yang mungkin berkaitan adalah hipoglikemia, sepsis, dan sindrom aspirasi mekonium  atau bayi baru lahir yang menghirup cairan plasenta atau kotoran si bayi (mekonium).

Penyebab lain dari hipertensi pulmonal adalah sindrom Eisenmenger. Kondisi ini adalah salah satu jenis penyakit jantung bawaan yang umumnya disebabkan oleh adanya lubang besar di antara kedua bilik jantung. Sindrom Eisenmenger menyebabkan darah yang mengandung oksigen bercampur dengan darah yang tidak mengandung oksigen dan kemudian kembali ke paru yang seharusnya dialirkan ke seluruh tubuh Kondisi ini membuat tekanan darah pada pembuluh darah paru-paru meningkat, memicu hipertensi pulmonal.

Selain dipicu oleh kondisi kesehatan yang terganggu, hipertensi pulmonal juga dapat dipicu oleh beberapa faktor risiko berikut :

  • Kelebihan berat badan
  • Sejarah penyakit ini di dalam riwayat keluarga
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Mengonsumsi obat-obatan penekan nafsu makan
  • Kasus hipertensi pulmonal arteri idiopati umumnya ditemukan pada golongan usia remaja dewasa
  • Mengidap salah satu dari kondisi kesehatan yang telah disebutkan di atas atau gangguan kesehatan lainnya
  • Hidup di dataran tinggi

Itulah informasi yang bisa kami sampaikan, semoga informasi yang kami sampaikan bisa bermanfaat untuk anda.

posted by. obatdarahtinggi77.idkes.com

Cara Diet Sehat Tekanan Darah Tinggi Yang Baik Dan Benar

Cara Diet Sehat Tekanan Darah Tinggi Yang Baik Dan Benar, Dengan Melakukan Diet Yang Teratur Dan Tepat Agar Kebutuhan Nutrisi Tetap Terjaga Dan Bebas Darai Darah Tinggi!

Cara-Diet-Sehat-Tekanan-Darah-Tinggi-Yang-Baik-Dan-Benar-300x210 Cara Diet Sehat Tekanan Darah Tinggi Yang Baik Dan Benar

Cara Diet Sehat Tekanan Darah Tinggi Yang Baik Dan Benar

Penyakit darah tinggi atau hipertensi adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningakatan tekanan darah di atas normal atau di atas 120/80 mmHg. Penderita hipertensi tekanan darahnya mencapai >140/90 mmHg. Pengobatannya diperlukan terapi dietetik dan merubah gaya hidup.

“Diet secara total lebih efektif daripada hanya diet dengan penambahan sayur dan buah.  Oleh karena itu, penting sekali penerapan prinsip Low Calory, Long Life (sedikit kalori, hidup lebih lama) pada penderita hipertensi,” ungkap dr. Said Aandy juga Dosen Bagian Ilmu Penyakit Dalam Universitas Abulyatama Aceh Besar.

Bagaimana Cara Diet Sehat Tekanan Darah Tinggi Yang Baik Dan Benar dibahas dalam kegiatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan Regional 1 Banda Aceh, di Klinik Meurasi Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Senin (13/3/2017).

Kegiatan Prolanis ini akan terus dilakukan secara rutin setiap minggu atas kerjasama dengan BPJS Kesehatan regional 1 Banda Aceh dengan Klinik Meurasi Lambaro

dr. Laksmi mengutarakan pengaturan diet dapat dilakukan untuk membantu menurunkan dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. “Program diet juga membantu menurunkan resiko berat badan yang berlebihan, tingginya kadar lemak kolesterol, dan asam urat dalam darah,” kata dr. Laksmi.

Senada dengan pemateri lain yaitu dr. Said Aandy Saida SpPD. Ia mengatakan, pengatura diet memiliki peran penting pada penderita hipertensi. Beberapa studi intervensi gizi, the Trials of Hypertension Prevention (TOHP) dan Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH) mendemostrasikan keberhasilan pencegahan hipertensi dan menurunkan tekanan darah orang dengan tekanan darah normal-tinggi.

Pada studi TOHP, ditargetkan berat badan berkurang 4,5 kg atau juga dengan pembatasan sodium, dapat menurunkan insidensi hipertensi. Sementara penelitian dengan DASH menunjukkan bahwa diet tinggi buah-buahan, sayuran, dan produk susu nonlemak serta rendah lemak dapat menurunkan tekanan darah sistolik rata-rata 6-11 mmHg.

“Diet secara total lebih efektif daripada hanya diet dengan penambahan sayur dan buah. Oleh karena itu, penting sekali penerapan prinsip Low Calory, Long Life (sedikit kalori, hidup lebih lama) pada penderita hipertensi,” ungkap dr. Said Aandy juga Dosen Bagian Ilmu Penyakit Dalam Universitas Abulyatama Aceh Besar.

Posted http://obatdarahtinggi77.idkes.com/